Sebuah blog tentang digital marketing dan digital analytics.

Channel-Agnostic Series – Ep 1. Menjadi Skeptis

by | Feb 1, 2026

Reading Time: 5 minutes

“Saya ingin muncul saat dicari dari AI”.

Kalimat ini hampir selalu saya dengar sewaktu meeting dengan client beberapa minggu belakangan.

Untuk client ini, sebenarnya tidak ada yang salah dengan performa saat ini.

Traffic dari Organic masih menunjukkan pertumbuhan setelah 6 bulan berjalan.

Traffic iklan masih menghasilkan ROAS dan MER yang positif, walau tanpa penambahan budget iklan.

Social Media masih menghasilkan Leads yang bagus, bahkan Lead-to-Close Ratio (metric yang kami gunakan untuk mengukur kualitas) masih stabil.

Hanya saja, selalu ada hal yang ingin dicoba. Apakah ini hal bagus? Tentu saja, sebagai digital marketer yang baik, saya akan menjawab “tergantung, Pak.”

Kilas balik ke jaman saya masih “tukar nyawa”, salah satu mentor saya saat FGD pernah berkata:

“It’s common for business owners to become FOMO. It’s within their blood. Your job is to make sure that what you do is an educated guess. Don’t only become data-driven, your decision must be data-influenced.”

Untuk memberikan gambaran, kurang lebih datanya seperti ini:

Kesimpulan saya saat itu, menambah fokus untuk bisa muncul di AI adalah sebuah taruhan.

Bukan hanya karena ini adalah sebuah trends, tetapi biasanya traffic dari AI akan dikategorikan dalam “Referral”,  yang jika dilihat dari data, belum memberikan dampak maksimal untuk Revenue.

Seperti client pada umumnya, mereka bersikeras.
Alasannya lumayan sederhana:

“Yang lain sudah mulai kelihatan fokus ke AI. Saya berteman dengan ownernya dan mereka fokus kesana”.

Poin yang cukup valid, setidaknya begitu kata teman saya yang seorang Psikolog. Setiap perasaan manusia itu valid.

Saya mencoba berargumen singkat,

“Mereka mungkin punya datanya sendiri kenapa mereka beralih fokus ke AI. Mungkin karena mereka punya fitur baru yang cocok dengan AI, mungkin juga karena mereka sudah melakukan riset market dan menemukan bahwa banyak Audience mereka beralih menggunakan AI, atau.. alasan terakhir yang semoga saja tidak, mereka juga ikutan FOMO.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk melakukan riset lebih dalam terhadap market yang kami target.

Terkait bagaimana adaptasi mereka menggunakan AI dan apakah AI sangat berperan dalam mempengaruhi keputusan mereka untuk melakukan kontak hingga pembelian. Ini akan kami lakukan selama 3 bulan.

I think it’s good, we are moving in the right direction. At least, we are not following people blindly.

Hal ini mengingatkan saya kembali kenapa dulu, mentor saya selalu menyarankan kami untuk menjadi channel-agnostic. Strategy comes first, channels next.

Dalam hal strategi, banyak unsur perlu diperhitungkan. Dari sisi audience, hingga operasional di lapangan, dan yang paling penting, apakah ada revenue yang dihasilkan.

Paradoks yang sering terjadi: Saat revenue turun, maka Revenue metric yang menjadi patokan. Saat revenue naik, Revenue metric tidak diperhitungkan.

Sebuah standar ganda, tapi sering terjadi di kota-kota besar.

Dalam hal channel, entah berapa banyak client yang mencoba men-generalisasi.

Sekarang jamannya TikTok.

Sekarang jamannya Instagram.

SEO sudah tidak perlu.

Emang masih ada yang pakai E-mail?

Sekali lagi, sebagai digital marketer yang baik, saya menjawab “tergantung market, Pak.”

Banyak data ber-”sliweran” secara online. Di LinkedIn, di forum, di blog orang, di grup komunitas. Tidak perlu waktu lama untuk menemukan data, bahkan tinggal tanya Agent AI favorit.

Tapi, menurut saya esensinya adalah, apakah data itu menggambarkan “market” yang mau kita target? Dan yang paling penting, apakah kita “punya” data (First-party data) yang serupa atau tidak?

Salah satu benchmark yang sering saya lihat saat mengajar dan meeting dengan client baru, Google Ads Industry Benchmark by WordStream.

Ini tiba-tiba menjadi patokan baku. Menjadi angka benchmark kita saat mau menjalankan iklan di Google.

Mari mencoba sedikit skeptis.

Kalau kita anggap client ini bergerak di industri Apparel, maka benchmark CPL nya adalah $101.49 di Google Ads Search Campaign.

Yang dirupiahkan dengan rate saat blog ini dibuat, kurang lebih Rp1,700,000.

Tidak perlu orang yang setiap hari pergi ke Bandung Collection untuk tahu bahwa harga baju yang mereka pakai tidak semahal ini.

Dan ini sering menjadi alasan munculnya keputusan, “kita tidak mau pakai Google Ads”.

Yep, datanya (mungkin) tidak salah. Interpretasinya, bisa ditingkatkan lagi.

Jika kita scroll sedikit kebagian bawah dari halaman itu, kita akan menemukan paragraf ini:

Melihat sesuatu? Yes. Data ini adalah US-Based. Menggunakan data behavior audience di US.

“Lalu bagaimana jika target market kita bukan di US?”

Pertanyaan bagus, mari cari datanya.

“Dan ini adalah Cost-per-Lead, apakah cara kita menghitung “Lead” sama dengan mereka? Kita kan maunya langsung “Purchase”.”

Pertanyaan yang tepat. Mungkin saja sama, mungkin saja tidak.

“Jadi, kita mau pakai data ini atau tidak?”

The room stays silent.

“Apakah market kita masih mencari di Google? Gimana menurut Bli Raka?”

This is it. Akhirnya, diskusi dan brainstorming resmi dimulai.

Prinsip Channel-Agnostic cukup sederhana. Bukan tentang channels nya atau placementnya. Tapi, tentang marketnya.

Kalau market kita masih mencari informasi di Google, bahkan data 6 bulan hingga 1 tahun kebelakang Google masih menjadi sumber revenue, bukankah ini pertanda baik?

Kalau market kita lebih banyak interaksi dengan kita via Instagram DM, walaupun kita terus-terusan menyarankan untuk menghubungi via WhatsApp, bahkan menaruh nomor WA kita hampir di semua post Sosmed, bio Link, dan tidak lupa juga di caption, apakah masih mau kita paksa terus?

Sudah seberapa influence sih brand kita?

Sudah seberapa kuat sih power kita untuk “menyuruh” market mengikuti flow kita?

Apalagi dengan TikTok yang menurut data, banyak audience yang lebih muda. Seberapa mampu kita untuk “mendorong” mereka untuk berubah haluan?

Chat hanya dibuat sebagai ilustrasi, bukan chat asli tapi dengan konteks yang serupa. 🙂

Bottom Line:

Kemampuan untuk interpretasi data adalah salah satu skill yang masih saya asah hingga saat ini.

Tidak hanya belajar untuk membuat sebanyak mungkin kesimpulan dari data, mencoba membuat prediksi, menghubungkan dengan data lain, mencoba untuk lebih skeptis dan yang paling penting, pernah punya beberapa kesimpulan yang “keliru”.

Kita hanya perlu benar satu kali saja, they said.

Di sisi lain, adopsi dari teknologi baru juga semakin kencang apalagi dengan harga-harga yang lebih “terjangkau”.

Misalnya, tablet yang sekarang lebih banyak digunakan oleh anak-anak, dicap sebagai teknologi “anak-anak”. Tidak jarang, dalam campaign kami, Tablet menjadi salah satu placement yang di exclude.

Inipun kembali akan menciptakan sebuah “asumsi” bagi para client saya yang kebanyakan adalah “business owners”. bahwa sekarang ini-nih yang lagi zamannya!

Melihat dari beberapa data yang bersliweran online, data diatas dan sumber yang dikenal hampir semua orang Global Overview Report by Data Reportal, ada prediksi yang saya tanam dalam hati, sembari bersiap dengan jawabannya.

 

Dengan peningkatan penggunaan smartwatch dan AI, mungkin saja, meeting saya berikutnya akan dimulai dengan,

“Saya ingin bisnis saya dan iklan kita muncul di Smartwatch”.

🙂

Stay sane, Digital Marketers.